Pelantikan  IKA UNAIR ACEH: KHOFIFAH Dorong Alumni Berkari Nyata,  TAQWADDIN Gagas  Kolaborasi  Pendidikan Dan  Pembangunan  Aceh

Daerah, News, TNI/POLRI54 Dilihat

Catatan Kritis :
*Teuku Muhammad Jamil*
Wakil Ketua PW IKA Unair Aceh Periode 2025 – 2030
Ilmuwan Politik dan Akademisi USK, Aceh

Lampuan l Banda Aceh. –  Pelantikan Pengurus Wilayah Ikatan Alumni Universitas Airlangga (PW IKA UNAIR) Aceh periode 2025–2030 bukan sekadar pergantian kepengurusan organisasi. Momentum ini diharapkan menjadi titik awal penguatan kontribusi alumni dalam menjawab persoalan pendidikan, ketimpangan kesejahteraan, dan tantangan pembangunan Aceh.

Pelantikan yang berlangsung di Hotel Amel, Banda Aceh, Senin malam (19/10/2026), dilakukan oleh Ketua Umum Pengurus Pusat IKA UNAIR, Dr. (H.C.) Hj. Khofifah Indar Parawansa. Kegiatan tersebut dihadiri Ketua PW IKA UNAIR Aceh, Dr. H. Taqwaddin, S.H., M.H beserta jajarannya, Wakil Kepala Pengadilan Tinggi Banda Aceh, A. Bondan, SH, MH, Ketua Fatayat NU Aceh, para undangan, alumni Universitas Airlangga, serta rombongan Pengurus Pusat IKA UNAIR.

Pembacaan SK PW IKA Unair Aceh, dibacakan Oleh Sekjen PP IKA Unair, Cak Dr. Indra N. Fauzi. Dalam suasana penuh persaudaraan, pelantikan dan pengukuhan ini membawa pesan penting bahwa kekuatan sebuah organisasi alumni tidak semata-mata diukur dari jumlah anggotanya, tetapi dari kemampuan mengubah pengetahuan, pengalaman, dan jejaring profesional menjadi karya nyata bagi masyarakat.

*TAQWADDIN: ALUMNI HARUS MENJADI JEMBATAN PENDIDIKAN DAN PEMBANGUNAN*

Dalam sambutannya, Ketua PW IKA UNAIR Aceh, Dr. H. Taqwaddin, S.H., M.H., menekankan pentingnya memperkuat peran Universitas Airlangga dalam memperluas kesempatan pendidikan tinggi bagi lulusan sekolah menengah di Aceh.

Ia berharap Universitas Airlangga dapat memberikan perhatian lebih besar kepada putra-putri Aceh yang memiliki kemampuan akademik dan potensi untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi tersebut.

Menurutnya, potensi generasi muda Aceh perlu dihubungkan dengan kesempatan memperoleh pendidikan berkualitas di perguruan tinggi terkemuka. Karena itu, IKA UNAIR Aceh diharapkan tidak hanya menjadi wadah silaturahmi alumni, tetapi juga jembatan yang menghubungkan kebutuhan pendidikan daerah dengan kebijakan dan sumber daya perguruan tinggi.

Harapan tersebut, lanjutnya, perlu ditindaklanjuti melalui dialog kelembagaan dengan Universitas Airlangga untuk mengkaji berbagai kemungkinan kebijakan yang sesuai dengan peraturan penerimaan mahasiswa baru dan prinsip meritokrasi.

Gagasan yang perlu diperjuangkan bukan sekadar memberikan keistimewaan berdasarkan asal daerah, melainkan memperluas akses, memperkuat kesiapan akademik, dan memastikan bahwa siswa Aceh yang berpotensi memperoleh kesempatan yang adil untuk bersaing.

Upaya tersebut dapat diwujudkan melalui program pembinaan siswa berprestasi, pendampingan persiapan seleksi masuk perguruan tinggi, sosialisasi jalur penerimaan mahasiswa, pemberian informasi beasiswa, serta kerja sama antara UNAIR, sekolah-sekolah, dan Dinas Pendidikan Aceh.

Dengan demikian, harapan agar lebih banyak lulusan sekolah menengah Aceh menempuh pendidikan di UNAIR dapat diterjemahkan menjadi program yang terukur, berkelanjutan, dan dapat dievaluasi.

*KETIMPANGAN KESEJAHTERAAN MEMERLUKAN KOLABORASI ANTARDAERAH*

Taqwaddin juga menyoroti persoalan keadilan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat Aceh. Menurutnya, pembangunan Aceh tidak cukup diukur dari pertumbuhan ekonomi atau besarnya anggaran pemerintah, tetapi harus dilihat dari sejauh mana manfaat pembangunan dirasakan masyarakat secara merata.

Persoalan kesejahteraan, akses pendidikan, kualitas sumber daya manusia, dan kesempatan ekonomi membutuhkan kerja sama lintas sektor serta lintas daerah.

Dalam konteks ini, ia memandang keberadaan Khofifah Indar Parawansa yang juga menjabat Gubernur Jawa Timur sebagai peluang strategis untuk memperkuat hubungan pembangunan antara Aceh dan Jawa Timur.

Melalui jejaring IKA UNAIR, kedua daerah diharapkan dapat membangun kolaborasi dalam bidang pendidikan, pengembangan sumber daya manusia, pemberdayaan ekonomi masyarakat, pertanian, kesehatan, dan penguatan kapasitas kelembagaan.

Kerja sama tersebut dapat dimulai dengan pemetaan kebutuhan pembangunan Aceh, pertukaran pengalaman kebijakan, pengembangan program pendampingan, serta kemitraan antara institusi pendidikan dan pemerintah daerah.

Namun, kolaborasi tidak boleh berhenti pada pernyataan persahabatan atau penandatanganan nota kesepahaman. Ia harus memiliki sasaran, program kerja, pembagian tanggung jawab, dan indikator keberhasilan yang jelas.

Sebab, keadilan pembangunan tidak lahir hanya dari niat baik, tetapi dari kebijakan yang tepat, kerja sama yang setara, dan keberanian memastikan bahwa manfaat pembangunan benar-benar sampai kepada masyarakat.

*KHOFIFAH: BESARNYA UNAIR DITENTUKAN OLEH KARYA ALUMNI*

Dalam pesannya kepada pengurus yang baru dilantik, Khofifah Indar Parawansa menekankan pentingnya peran alumni dalam menentukan kebesaran dan reputasi Universitas Airlangga.

Alumni, menurut pesan yang disampaikannya, tidak cukup hanya membanggakan nama almamater atau mencantumkan gelar akademik dalam identitas profesional. Mereka harus menunjukkan karya nyata yang membawa manfaat bagi masyarakat.

Nama besar perguruan tinggi pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh kualitas pembelajaran, reputasi akademik, atau capaian riset di lingkungan kampus. Reputasi itu juga dibangun melalui integritas, kompetensi, dan pengabdian para alumninya di berbagai bidang kehidupan.

Pesan tersebut mengandung makna bahwa hubungan alumni dengan almamater tidak berakhir ketika seseorang menerima ijazah. Justru setelah meninggalkan kampus, tanggung jawab untuk mengamalkan ilmu pengetahuan semakin besar.

Alumni yang bekerja di pemerintahan harus menghadirkan kebijakan yang adil. Alumni yang menjadi akademisi harus mengembangkan ilmu pengetahuan. Alumni yang bergerak di dunia usaha harus membuka kesempatan ekonomi. Sementara alumni yang memiliki pengaruh sosial harus menggunakan pengaruhnya untuk memperkuat kepentingan publik.

Dengan cara demikian, almamater tidak hanya dikenang sebagai tempat seseorang memperoleh pendidikan, tetapi juga sebagai sumber nilai yang membentuk karakter dan tanggung jawab sosial.

*MENANAM POHON, MERAWAT KEHIDUPAN*

Salah satu pesan penting Khofifah adalah ajakan untuk membangun kepedulian terhadap lingkungan melalui gerakan menanam pohon, dengan mengaca pada “sakitnya bumi” saat ini.

Ia mengajak alumni menghidupkan kembali semangat menanam sebagai bentuk kepedulian terhadap keberlanjutan alam dan masa depan generasi mendatang. Pesan tersebut juga selaras dengan ajaran Rasulullah SAW yang mendorong umat manusia untuk tetap melakukan kebaikan, bahkan ketika menghadapi keadaan yang sangat sulit.

Dalam hadis riwayat Ahmad, terdapat pesan agar seseorang tetap menanam bibit apabila kiamat datang sementara bibit itu masih berada di tangannya.

Pesan ini mengandung filosofi yang mendalam: kebaikan tidak kehilangan maknanya hanya karena hasilnya belum dapat dinikmati oleh orang yang melakukannya.

Menanam pohon bukan sekadar kegiatan menghijaukan lingkungan. Ia merupakan pernyataan moral bahwa manusia memiliki tanggung jawab terhadap kehidupan yang melampaui kepentingan dan usianya sendiri.

Pohon yang ditanam hari ini mungkin baru memberikan keteduhan bertahun-tahun kemudian. Namun, keputusan untuk menanamnya menunjukkan kepedulian terhadap orang-orang yang kelak hidup di bawah naungannya.

Dalam konteks Aceh, semangat tersebut relevan dengan tantangan kerusakan lingkungan, berkurangnya tutupan hutan, ancaman banjir, serta kebutuhan memulihkan ekosistem di berbagai wilayah.

Karena itu, gerakan menanam yang diinisiasi alumni sebaiknya tidak berhenti pada seremoni penanaman bibit. Program tersebut perlu dilengkapi dengan pemilihan jenis tanaman yang sesuai, penentuan lokasi berdasarkan kebutuhan ekologis, pemeliharaan, pemantauan tingkat kelangsungan hidup tanaman, dan pelibatan masyarakat setempat.

Dengan pendekatan itu, gerakan penghijauan menjadi program pengabdian yang berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan dokumentasi.

*DARI PESAN MENJADI PROGRAM KONKRET*

Merespons harapan Ketua PW IKA UNAIR Aceh mengenai perluasan akses pendidikan bagi siswa Aceh, Khofifah mendorong agar gagasan tersebut diterjemahkan menjadi kerja sama konkret, termasuk dengan sekolah-sekolah dan dinas pendidikan.

Pesan ini penting karena memperlihatkan bahwa organisasi alumni dapat memainkan peran sebagai penghubung antara perguruan tinggi, pemerintah, sekolah, dan masyarakat.

Ada beberapa program yang dapat segera dipertimbangkan oleh PW IKA UNAIR Aceh bersama Pengurus Pusat IKA UNAIR dan Universitas Airlangga.

*Pertama, Program UNAIR Menyapa Sekolah Aceh.* Alumni mengunjungi sekolah-sekolah untuk memberikan informasi mengenai pendidikan tinggi, pilihan program studi, mekanisme penerimaan mahasiswa, beasiswa, dan persiapan akademik.

*Kedua, Program Bimbingan Generasi Unggul Aceh.* Alumni dan relawan pendidikan mendampingi siswa yang berpotensi melanjutkan studi ke perguruan tinggi melalui penguatan literasi, kemampuan akademik, konsultasi pendidikan, serta pengenalan lingkungan kampus.

*Ketiga, Program Kemitraan Pendidikan Aceh–UNAIR.* IKA UNAIR Aceh memfasilitasi komunikasi dengan Universitas Airlangga dan Dinas Pendidikan Aceh untuk merancang kerja sama yang sesuai dengan kewenangan, kebutuhan sekolah, dan ketentuan penerimaan mahasiswa.

*Keempat, Program Alumni Mengabdi untuk Aceh.* Alumni dari berbagai bidang profesi dihimpun untuk memberikan kuliah umum, pelatihan, konsultasi, pendampingan masyarakat, dan berbagi pengalaman profesional kepada generasi muda.

*Kelima, Gerakan Alumni Menanam untuk Masa Depan.* Program penghijauan dilaksanakan secara terencana dengan melibatkan sekolah, perguruan tinggi, komunitas, dan masyarakat, disertai pemeliharaan serta evaluasi keberhasilan penanaman.

Program-program tersebut perlu disusun dengan target yang realistis, penanggung jawab yang jelas, jadwal pelaksanaan, serta evaluasi berkala. Dengan begitu, semangat pelantikan dapat diterjemahkan menjadi manfaat yang dirasakan secara langsung oleh masyarakat.

*ALUMNI BUKAN SEKADAR IKATAN, MELAINKAN KEKUATAN PENGABDIAN*

Pelantikan PW IKA UNAIR Aceh periode 2025–2030 membawa harapan agar organisasi ini tumbuh sebagai ruang persaudaraan yang produktif, inklusif, dan terbuka terhadap kolaborasi.

Di tengah berbagai persoalan pembangunan, alumni memiliki modal penting berupa ilmu pengetahuan, pengalaman profesional, jejaring kelembagaan, dan kemampuan menghubungkan berbagai kepentingan.

Modal tersebut akan kehilangan sebagian besar nilainya apabila hanya digunakan untuk memperkuat kebanggaan kelompok. Sebaliknya, ia menjadi kekuatan sosial ketika diarahkan untuk memperluas kesempatan pendidikan, mengurangi kesenjangan, memperkuat kualitas pelayanan publik, dan menjaga keberlanjutan lingkungan.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan kepengurusan bukanlah seberapa meriah pelantikannya, melainkan seberapa jauh amanah organisasi diterjemahkan menjadi karya.

Almamater memberi ilmu, persaudaraan memberi kekuatan, dan pengabdian memberi makna.

Di situlah IKA UNAIR menemukan arti strategisnya: bukan hanya sebagai tempat berkumpulnya para alumni Universitas Airlangga, melainkan sebagai kekuatan intelektual dan sosial yang ikut memikirkan, memperjuangkan, serta mengerjakan masa depan Aceh.

_Salam Airlangga, Salam Alumni. Bersama Membangun Aceh Menuju Indonesia Berkeadaban