‎Kapolri Ungkap Laboratorium Narkoba di Pidie, Hampir 1,2 Ton Sabu Berhasil Diungkap

Daerah, News, TNI/POLRI6 Dilihat

Lampuan l ‎PIDIE – Komitmen Polri bersama Badan Narkotika Nasional (BNN), Bea Cukai, dan berbagai unsur terkait dalam memberantas peredaran gelap Narkotika kembali menunjukkan hasil signifikan. Kapolri Jenderal Polisi Dr. (HC) Suyudi Ario Seto, S.I.K., S.H., M.Si., memimpin konferensi pers pengungkapan clandestine laboratory atau laboratorium gelap pembuatan sabu di Gampong Ulee Tutue, Kecamatan Mutiara Timur, Kabupaten Pidie, Aceh, Jumat (23/10/2026).
‎
‎Dalam pengungkapan tersebut, aparat berhasil membongkar fasilitas produksi Narkotika jenis sabu dengan barang bukti hampir 1,2 ton. Keberhasilan ini menjadi langkah penting dalam memutus mata rantai peredaran Narkotika yang mengancam keselamatan masyarakat dan masa depan generasi bangsa.
‎
‎Kapolri bersama rombongan terlebih dahulu meninjau lokasi laboratorium gelap sebelum menyampaikan hasil pengungkapan kepada publik. Kegiatan tersebut turut dihadiri Kabareskrim Polri Komjen Pol Asep Safrudin, S.I.K, M. H, Kapolda Aceh Irjen Pol Ruddi Setiawan, S.I.K, S.H, M.H, Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah, S.E., unsur Forkopimda Aceh dan Kabupaten Pidie, serta perwakilan instansi terkait dan tokoh masyarakat.
‎
‎Dalam keterangannya, Kapolri menegaskan bahwa keberhasilan tersebut merupakan hasil sinergi dan kerja sama lintas lembaga, termasuk dukungan masyarakat dalam upaya pemberantasan Narkotika.
‎
‎“Ini merupakan pukulan telak bagi jaringan Narkotika internasional sekaligus alarm keras bagi kita semua. TNI-Polri, pemerintah, dan seluruh elemen masyarakat harus terus bergandengan tangan untuk memberantas Narkotika,” tegas Kapolri.
‎
‎Kapolri juga menyampaikan bahwa penyidik masih melakukan pengembangan untuk memburu daftar pencarian orang (DPO) yang diduga terlibat dalam jaringan tersebut. Selain itu, aparat akan mendalami barang bukti berupa enam unit telepon genggam serta menelusuri dugaan tindak pidana pencucian uang guna mengungkap jaringan yang lebih luas.
‎
‎Pengungkapan ini sekaligus menjadi peringatan bahwa ancaman narkotika tidak hanya berasal dari penyelundupan, tetapi juga dari upaya membangun fasilitas produksi ilegal di dalam Negeri. Karena itu, penanganannya membutuhkan penegakan hukum yang tegas, pertukaran informasi, pengawasan, serta keterlibatan aktif masyarakat.
‎
‎Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah, S.E., dalam sambutannya turut menyampaikan apresiasi kepada jajaran Polri dan seluruh pihak yang terlibat. Ia menekankan pentingnya memperkuat kolaborasi dalam pencegahan dan pemberantasan Narkotika melalui edukasi, rehabilitasi, serta peran keluarga, lembaga pendidikan, dan tokoh masyarakat.
‎
‎Kehadiran berbagai unsur pemerintah, aparat penegak hukum, tokoh agama, tokoh adat, pelajar, mahasiswa, dan masyarakat dalam kegiatan tersebut mencerminkan pentingnya persatuan dalam melindungi generasi muda dari bahaya Narkoba.
‎
‎Polri mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama memerangi Narkotika, meningkatkan kewaspadaan, dan segera menyampaikan informasi kepada aparat apabila mengetahui adanya aktivitas mencurigakan yang berkaitan dengan peredaran gelap Narkoba.
‎
‎Dari Pidie, pesan tegas disampaikan: Indonesia tidak boleh menjadi tempat produksi maupun peredaran gelap Narkotika. Bersama, kita lindungi generasi bangsa dan wujudkan masyarakat yang aman, sehat, serta bebas dari Narkoba.
‎
‎